OBES

Kajian Seputar Gizi:

AYO PERANGI OBESITAS!

(republish from beranisehat.com)

Menurut data WHO (2015), 600 juta dari 1.9 milyar orang dewasa di dunia mengalami obesitas. Pada anak-anak usia di bawah lima tahun meningkat menjadi 14% dari 11% pada tahun 2007 (Ghosh, 2012). Di Indonesia, dalam Riskesdas 2013 disebutkan bahwa sebanyak 21.7% orang dewasa dan 8,8% anak usia 5-12 tahun di Indonesia mengalami obesitas. Menyadari tingginya angka prevalensi obesitas saat ini, penting bagi kita untuk mengetahui apa sebenarnya yang dimaksud dengan obesitas, faktor risiko, dampak yang ditimbulkan, serta bagaimana cara mengatasinya.

Yuk, simak kajiannya berikut ini.

Apa sih obesitas itu dan tahu dari mana kalau kita obesitas?

WHO (2015) mendefinisikan obesitas sebagai keadaan tubuh dengan jumlah lemak berlebih atau tidak normal yang dapat menyebabkan gangguan pada kesehatan tubuh. Berdasarkan pedoman antropometri WHO yang dicantumkan dalam Kemenkes No. 1995/Menkes/SK/XII/2010, cara untuk mengetahui seseorang obesitas atau tidak adalah dengan melakukan penghitungan IMT, yaitu berat badan (kg) dibagi tinggi badan dikali dua (m2). Pada orang dewasa, hasil penghitungan dengan IMT lebih besar dari 27 menunjukan keadaan obesitas. Sementara itu, anak hingga remaja usia 5-18 tahun tergolong obesitas jika Z-Score IMT/U menunjukkan angka lebih besar dari 2.

Apa saja faktor risiko obesitas?

Menurut Rossen dan Rossen (2012), terdapat beberapa faktor risiko obesitas. Faktor genetik dan lingkungan merupakan faktor yang saling berkaitan. Selain faktor genetik dan lingkungan, pola makan dan aktivitas fisik juga dapat mempengaruhi terjadinya obesitas. Makanan yang dapat meningkatkan risiko obesitas adalah makanan yang mengandung gula terlalu banyak dan juga junk food. Makanan dengan kandungan gula yang tinggi sebaiknya dikurangi karena gula mampu merubah fungsi hormon dan biokimia dalam tubuh yang memicu penambahan berat badan. Asupan makanan yang berlebih diiringi kebiasaan gerak yang kurang akan menyebabkan obesitas.

Ada juga pendapat Gibbons (2013) yang menyebutkan bahwa lingkungan dapat menyebabkan obesitas, baik lingkungan fisik maupun lingkungan sosial. Lingkungan dapat memicu obesitas bila fasilitas kesehatan yang mendukung gaya hidup sehat tidak tersedia, seperti: tidak terdapatnya trotoar untuk berjalan kaki dan taman untuk belohraga ringan; jadwal kerja yang padat yang menjadikan alasan untuk tidak dapat beraktivitas setelah bekerja; porsi makan yang besar, semakin banyaknya tempat yang menyediakan makanan porsi besar seperti restoran, supermarket, bioskop bahkan di rumah; makan dengan porsi besar tanpa diimbangi aktivitas yang cukup; kurangnya akses untuk mendapatkan makanan sehat yang berkaitan dengan ketersediaan pangan sehat dan daya beli masyarakat terhadap makanan tersebut; serta iklan makanan berupa produk tinggi kalori, makanan tinggi lemak atau minuman manis yang dapat menyebabkan risiko obesitas semakin meningkat.

Waktu tidur dan jumlah tidur juga dapat menyebabkan obesitas karena tidur membantu menjaga keseimbangan hormon ghrelin dan leptin yang mengatur mekanisme rasa kenyang. Kurangnya waktu tidur dapat meningkatkan ghrelin dan menurunkan kadar leptin sehingga seseorang merasa lapar. Tidur juga mempengaruhi reaksi tubuh terhadap insulin. Kurangnya waktu tidur dapat mengakibatkan kadar gula darah yang lebih tinggi dari kadar normal, yang dapat meningkatkan risiko untuk diabetes (Gibbons, 2013).

Merokok juga bisa menyebabkan obesitas!

Gibbons (2013) juga menyebutkan bahwa merokok dapat menyebabkan obesitas, karena beberapa orang mengalami  penambahan berat badan ketika mereka berhenti merokok. Salah satu alasannya adalah makanan sering dijadikan pengalih rasa dan bau setelah berhenti merokok. Alasan lain adalah karena nikotin meningkatkan pembakaran kalori, sehingga ketika berhenti merokok akan sedikit kalori yang dibakar. Namun, bukan berarti orang yang tidak berhenti merokok tidak akan terkena obesitas. Hal ini dikarenakan kandungan nikotin pada rokok dapat menekan selera makan sehingga menyebabkan perokok cenderung mengonsumsi lebih banyak makanan ringan daripada makanan pokok. Apabila kebiasaan ini tidak disertai dengan aktivitas fisik yang seimbang, maka seorang perokok tetap akan berisiko terhadap obesitas (Chiolero, 2008).

Apa saja dampak yang ditimbulkan obesitas?

Dampak obesits bisa berupa dampak jangka pendek dan jangka panjang. Obesitas dapat memicu munculnya penyakit tidak menular, seperti penyakit kardiovaskular (paling sering adalah penyakit jantung dan stroke), diabetes, kelainan muskuloskeletal, kanker endrometrium, kanker payudara dan juga kanker usus besar (WHO, 2015). Selain dari aspek kesehatan, obesitas juga mempengaruhi kehidupan sosial dan perekonomian seseorang. Penderita obesitas yang telah mengidap penyakit tertentu akan menghabiskan banyak uang untuk biaya pengobatan dan perbaikan dietnya agar mendapatkan tubuh yang sehat. Dalam kehidupan sosialnya, orang yang mengalami obesitas cenderung tidak percaya diri. Lama kelamaan, ketidakpercayaan diri akan menyebabkan jatuhnya self esteem yang dapat membatasi interaksinya dengan lingkungan sekitar.

Nah, bagaimana sebenarnya cara mengatasi obesitas?

Untuk mengatasi masalah obesitas dapat dilakukan berbagai macam cara meliputi penyusunan tujuan dan perubahan gaya hidup, seperti memakan makanan rendah kalori dan meningkatkan aktivitas fisik (Gibbons, 2013). Dalam menyusun tujuan penurunan berat badan haruslah realistis. Cara terbaik dalam menurunkan berat badan adalah dengan melakukannya secara perlahan, pengurangan berat badan sebesar 0,5-1 kg / minggu merupakan cara yang aman dalam mengurangi berat badan.

Merubah gaya hidup dapat diawali dengan memperhatikan keseimbangan jumlah kalori yang masuk dengan pengeluaran energi setiap harinya. Umumnya, perempuan membutuhkan 1000 – 1200 kalori/hari untuk mengurangi berat badan dengan aman. Sedangkan laki-laki membutuhkan 1200 – 1600 kalori/hari untuk pengurangan berat badannya. Selanjutnya perbanyak konsumsi makanan fat-free dan low-fat dairy products, makanan tinggi protein, makanan olahan gandum, buah dan sayur. Hindari makanan yang mengandung lemak jenuh, lemak trans, kolesterol, tinggi garam, dan tinggi gula (Gibbons, 2013). Langkah berikutnya adalah dengan memaksimalkan aktivitas fisik. Banyak orang dapat menjaga berat badannya dengan melakukan aktivitas fisik secara intensif dalam 150 – 300 menit / minggu (Gibbons, 2013). Orang yang ingin menurunkan berat badannya lebih dari 5% mungkin harus melakukan aktivitas fisik intensif lebih dari 300 menit / minggu. Kegiatan tersebut tidak harus dilakukan secara keseluruhan dalam satu waktu, namun dapat dibuat dalam periode yang lebih pendek setidaknya 10 menit/periode (Gibbons, 2013).

 

 

Kesimpulannya…

Obesitas merupakan kondisi berat badan berlebih yang dapat diukur menggunakan IMT. Selain adanya faktor gen, obesitas juga disebabkan ketidakseimbangan asupan gizi dan pengeluaran energi. Kondisi ini dapat memicu timbulnya berbagai macam penyakit yang memberi dampak jangka panjang bagi kesehatan tubuh. Hal yang dapat dilakukan untuk mengatasinya adalah dengan menerapkan pola hidup sehat.

Sekarang sudah mengerti, kan, tentang seluk beluk mengenai obesitas?

Oleh karena itu, mari sama-sama kita lakukan pencegahan dengan membiasakan menerapkan gaya hidup sehat. Ayo hidup sehat, ayo perangi obesitas!

Referensi:

Chiolero, A. (2008). Consequences of smoking for body weight, body fat distribution, and insulin resistance [online]. American Society for Nutrition, 87:801–9. Available at: http://ajcn.nutrition.org/content/87/4/801.full.pdf [Diakses 20 Maret 2016]

Ghosh, P. (2012). Indonesian Police Desperate To Lose Weight, But Obesity Nationwide  Problem. [online] Available at: http://www.ibtimes.com/indonesian-police-desperate-lose-            weight-obesity-nationwide-problem-924387

Gibbons, G.H. (2013). What Causes Overweight and Obesity? – NHLBI, NIH. [online] Available at: http://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/obe/causes. [Accessed 3 Apr.     2016].

Gibbons, G.H. , (2013). How Are Obesity and Overweigth Treated? – NHLBI, NIH. [online]         Available at:  https://www.nhlbi.nih.gov/health/health-topics/topics/obe/treatment

Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 1995/Menkes/SK/XII/2010

Rossen LM dan Rossen EA. (2012). Psych 101 Series: Obesity 101. New York: Springer Publishing Company.

Strauss, S. (2000). Theories of Cognitive Development and Their Implications. London: Routledge.

WHO. (2015). Obesity and Overweight. [online] Available at:http://www.who.int/mediacentre/factsheets/fs311/en/

Written by akg

Leave a Reply